Minggu, 08 Juni 2014

(Fanfiction) Illusion /oneshot/


Title:Illusion
Author: Dinda Hermalia Ulfa
Cast: ~Winner’s Jinwoo
~You
Rating: T
Genre: Unknown
Don’t copy this story
Don’t be plagiator
© 2014
~
Aku mengikutinya lagi hari ini. Seperti hari-hari lalu, aku berjalan bersisian lagi dengan anak lelaki bersurai hitam itu di sepanjang jalan menuju rumah. Tapi tolong jangan bayangkan bahwa kata ‘bersisian’ disini bahwa jarak antara aku dengannya hanya sejengkal. Tidak tidak, tidak sejengkal, tidak sedekat itu. Mungkin jika sedekat itu, aku akan benar-benar tidak bisa bernafas dibuatnya. Well, jika dia berada di sisi jalan yang satu, aku berada di sisi jalan yang satunya lagi. Tidak terlalu dekat tetapi juga tidak terlalu jauh. Walaupun begitu aku sangat menikmati saat-saat seperti ini. Saat-saat ketika ia tak sengaja melihatku dan mata kami bertemu pandang. Aku tidak bisa apa-apa lagi, selain tersenyum dan mengalihkan pandanganku. Berharap agar dia tidak merasa aku terus memperhatikannya sejak tadi.
Tidak terlalu mengingat bagaimana pertemuan pertamaku dengannya, tetapi sejauh ini anak lelaki itu selalu menjadi alasan pertamaku untuk pergi sekolah. Bukannya aku tidak ingin sekolah atau apa, ayolah, siapa yang suka sekolah didunia ini kecuali Leonardo da vicci dan Alexander Graham Bell? Orang bodoh mana yang dengan senang hati ingin datang dan duduk manis dibangku sekolahan? Tetapi setelah kedatangannya, sekolah menjadi tempat yang menyenangkan dan aku menjadi salah satu dari orang-orang bodoh tersebut.
Well, semejak kedatangannya kesekolah ini ia terus saja menarik perhatianku. Dia anak lelaki yang ramah sementara aku tidak. Dan gadis pendiam ini mempunyai kebiasaan baru mengikuti si anak ramah kemanapun ia pergi. Semacam penguntit, tetapi untungnya aku tidak pernah ketahuan sejauh ini. Namanya Kim Jinwoo, anak pindahan satu bulan yang lalu dari salah satu Sekolah yang tidak bisa kuingat namanya. Jujur saja, semenjak ada dia, aku rasa aku jadi lebih sering menarik sudut-sudut bibirku.  Tersenyum maksudnya. Dan yang lebih membuatku girang setengah mati adalah, rumahku dan rumah Jinwoo searah. Dan kautahu artinya? Jadi kegiatan mengikuti dan memperhatikannya tidak hanya sebatas disekolah saja. Kami naik bis yang sama dan berjalan bersisian bersama. Sudah kujelaskan apa itu bersisian, ingat? Rumahku berbeda satu blok dengannya, dan aku harus terpaksa berhenti dirumahku sedangkan dia harus berjalan satu blok lagi kerumahnya. Dan sejak satu bulan terakhir, aku harus menahan diriku untuk tidak menyeret rumahku agar  bersebelahan dengan rumahnya. Kupikir akan lebih bagus jika kami bertentangga. Tetapi aku tahu itu sangat-sangat tidak mungkin kecuali aku memiliki ribuan balon-balon bewarna-warni yang bisa mengangkat rumahku terbang seperti yang pernah kutonton di film UP. Pikiran gila.
Besoknya seperti biasa aku menunggunya didepan gerbang. Kami pulang cepat hari ini entah karena apa. Tapi ia tidak kunjung datang dan aku bergegas mencarinya keseluruh sudut sekolah. Akhirnya ia kutemukan sedang berlari mengililingi lapangan olahraga. Aku memutuskan menunggunya, memperhatikannya dan tak lama setelah itu merasa kebosanan. Mengeluarkan secarik kertas dari buku dan membentuknya segera menjadi sebuah burung kertas, hobi yang telah kulakukan sejak lama sekali.
Aku berpikir untuk memberikan karyaku-burung kertas itu-hari ini kepada Jinwoo. Tentu saja tidak secara langsung, jadi aku menaruh benda itu didekat air minumnya dan berlalu pergi. Berharap ia akan mengambilnya bahkan menyimpannya untuk selamanya. 
-
Besoknya ketika pulang sekolah seperti biasa aku menunggu bis di halte bersama Jinwoo dan seorang gadis berseragam biru yang sedang berbicara dengannya. Aku kesal, bertanya-tanya siapa gerangan gadis berseragam biru ini. Kami  tidak satu sakolah, mengingat seragam yang aku dan Jinwoo kenakan berwarna putih, tidak sama dengannya. Sampai bis datang aku masih bisa melihat ia bersama gadis itu. Aku masuk duluan setelah itu mereka. Aku baru saja akan duduk ketika bis melaju tiba-tiba dan--
-merasakan seseorang mendorongku. Sesorang itu Jinwoo. Dan dia memegang lenganku. Menahanku agar tidak terjerembab. Diam-diam aku tersenyum, Jinwoo menyentuhku.
“Maaf.” Ucapnya singkat ketika aku menoleh. Tidak dapat dipercaya dia akhirnya berbicara padaku. 
“Tidak apa-apa” ucapku santai. Apa?  Aku bisa mengatakan sesuatu padanya? Aku tidak pernah menyangka aku bisa melakukannya.
Jinwoo tersenyum manis padaku dan duduk disalah satu kursi bis. Ia menepuk-nepuk kursi disampingnya memberi isyarat agar aku duduk disana. Aku terperangah tentu saja untuk beberapa saat. Kemudian mencari sosok gadis berseragam biru tadi yang menghilang entah kemana. Well, aku tidak peduli dimana gadis itu sekarang dan segera duduk di samping Jinwoo.
Jinwoo mengeluarkan sesuatu dari sakunya celananya. Burung Kertas itu. Burung kertas yang kuberikan padanya kemarin.
“Ini punyamu?” tanyanya masih dengan senyum yang sama. Aku mengangguk singkat.
Jinwoo menarik tangan kiriku dan membuka telapak tanganku. Menaruh burung kertas itu disana. Masih dengan senyum yang sama. “Kukembalikan” ujarnya.
“Kenapa?” Tanyaku bingung
“Bukankah aku sudah tahu siapa pemiliknya? Kau memberikan  burung kertas itu agar dia menunjukkan siapa pemiliknya kan? Dan dia sudah memberitahuku.”
Aku tersenyum lembut. Karena dia manis sekali.
Kami sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Jinwoo memilih memerhatikan pemandangan diluar jendela bis sementara aku tetap memperhatikannya tentu saja. Kalau boleh jujur, aku tidak pernah memperhatikannya sedekat ini. 
Tiba-tiba ia berdiri dan mengulurkan tangannya padaku “Kita sudah sampai,” ucapnya, memang benar bis sudah berhenti. Aku lantas menatap tangan itu. Ragu tapi akhirnya kusambut uluran tangannya. Hangat. Dia tidak melepaskan genggamannya padaku sepanjang jalan menuju rumah. Agak aneh. Karena kami selama ini selalu berjalan berjauhan.
“Jinwoo, apa kau kedinginan?” tanyaku ketika kami berdua telah sampai didepan rumahku. Dia mengangguk, “Sedikit” katanya
“Mau minum segelas coke-”
“Tidak usah” potongnya cepat sembari tersenyum. Lagi.
“Baiklah” jawabku singkat. Sebenarnya ingin sekali menahannya berlama-lama disini. Mengobrol dengannya lebih banyak lagi dan sebagainya. Tapi Jinwoo ingin pulang, aku bisa apa.
Dia mengacak puncak kepalaku pelan membuatku menahan nafas
 “Aku pulang ya. Terimakasih untuk burung kertas itu. Ku harap setelah ini kita bisa lebih dekat. Sampai jumpa besok.” Ujarnya padaku. Tapi ia belum pergi, menungguku untuk masuk rumah terlebih dahulu dan melambaikan tangannya--
-Seseorang menepuk bahuku pelan, “Apa yang kau lakukan disini? Kenapa belum masuk?” Aku menoleh ke asal suara yang sangat familiar ditelingaku.
“Ibu” ucapku singkat mengerjapkan mataku beberapa kali
“Cepat masuk atau kau akan mati beku sayang.” Kata ibu sementara aku mencari sosok Jinwoo lagi. Dia masih disini tadi, berbicara padaku sebelum ibu datang. Tersenyum padaku dan mengacak puncak kepalaku pelan.
“Ibu lihat Jinwoo?” tanyaku pada ibu yang terlihat kebingungan
“Jinwoo siapa? Tidak ada orang lain disini selain kita berdua.” Ibu masih terlihat bingung
“Ibu, Jinwoo itu temanku. Dia ada disini tadi.” Jelasku pada ibu. Apa Jinwoo sudah pergi sebelum ibu melihatnya? Tidak mungkin. pikirku
“Kau terlalu lelah hari ini sayang. Ibu akan menyiapkan air hangat dan membuatkan bubur untukmu ya.” Kata ibu lagi setelah itu tersenyum manis. Senyuman ibu mengatakan bahwa ia tidak berbohong. Mungkin kata-kata yang diucapkannya boleh jadi tidak benar, tetapi senyuman ibu tidak pernah berbohong. Aku tahu itu
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku lemah tanda mengerti dan ibu masuk kedalam rumah setelahnya. Bagus, aku berkhayal lagi. Dan aku membuat diriku berkhayal sejak berada didalam bis tadi hingga kejadian didepan rumah.
Jinwoo sama sekali tidak berdiri disampingku dan tertawa bersamaku. Ia tidak  tersenyum padaku. Anak lelaki itu tidak pernah memandangku dan menggenggam jemariku. Ia tidak berbicara padaku dibis dan tidak menerima burung kertasku. Ia sama sekali tidak melakukan apapun bersamaku. Tunggu. Burung kertas? Kubuka genggaman tangan kiriku dan dia ada disana. Burung kertas yang telah terbagi dua itu ada disana. Sesaat aku berpikir mungkin aku menemukan burung ini di lantai bis dalam keadaan rusak.
Tetapi mungkin dengan gadis itu. Jinwoo mungkin melakukan semuanya dengan gadis berseragam biru itu. Ia berdiri disampingnya dan tertawa bersamanya. Tersenyum, berbicara, dan menggenggam tangannya. Bukan denganku. Tetapi mengapa aku membayangkan bahwa yang bersama dengannya itu aku dan terasa sangat nyata? Entahlah
Aku lantas tertawa miris alih-alih menangis, mengetahui bahwa Jinwoo tidak akan pernah benar-benar melihat kearahku. Tetapi akhirnya aku tahu, bahwa Jinwoo telah memiliki seseorang yang sudah mengisi hatinya terlebih dahulu. Aku merasa bodoh sendiri, bagaimana bisa aku tidak memikirkan hal ini dahulu sebelum jatuh lebih dalam lagi. Tidak ada yang salah, Jinwoo tidak salah karena aku tidak pernah menanyakan tentang apakah ia sedang dekat dengan seseorang atau tidak. Biar bagaimanapun, Jinwoo itu tampan, pintar dan ramah. Sangat mustahil sekali jika ia tidak memiliki seorang kekasih  jika dipikir-pikir lagi. Ah, mengapa aku sangat bodoh sampai-sampai tidak memikirkan itu semua. Tapi apa boleh buat itu semua telah terjadi. Aku telah patah hati pada cinta pertama. Ya, cinta pertama pada seorang Kim Jinwoo. Kurasa tidak terlalu buruk.
-End-

Hai-hai. Kalau boleh jujur ya, sebenernya fanfiction ini terinspirasi dari  mv Akdong Mucisian-200%, udah nonton? Walaupun ga sama persis, aku berusaha buat bikin ceritanya senyambung mungkin. Jadi ada beberapa adegan didalam mv yang aku ilangin dan aku tambahin. Tetapi disamping itu semua, aku berharap para readers suka cerita ini. Sekali lagi jan jadi silent readers ya.. Aku masih haus akan masukan /ceileh/ Udah gitu aja. Thankyou~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar