Title:Illusion
Author: Dinda Hermalia Ulfa
Cast: ~Winner’s Jinwoo
~You
Rating: T
Genre: Unknown
Don’t copy this story
Don’t be plagiator
© 2014
~
Aku
mengikutinya lagi hari ini. Seperti hari-hari lalu, aku berjalan bersisian lagi
dengan anak lelaki bersurai hitam itu di sepanjang jalan menuju rumah. Tapi
tolong jangan bayangkan bahwa kata ‘bersisian’ disini bahwa jarak antara aku
dengannya hanya sejengkal. Tidak tidak, tidak sejengkal, tidak sedekat itu.
Mungkin jika sedekat itu, aku akan benar-benar tidak bisa bernafas dibuatnya.
Well, jika dia berada di sisi jalan yang satu, aku berada di sisi jalan yang
satunya lagi. Tidak terlalu dekat tetapi juga tidak terlalu jauh. Walaupun
begitu aku sangat menikmati saat-saat seperti ini. Saat-saat ketika ia tak
sengaja melihatku dan mata kami bertemu pandang. Aku tidak bisa apa-apa lagi,
selain tersenyum dan mengalihkan pandanganku. Berharap agar dia tidak merasa
aku terus memperhatikannya sejak tadi.
Tidak
terlalu mengingat bagaimana pertemuan pertamaku dengannya, tetapi sejauh ini
anak lelaki itu selalu menjadi alasan pertamaku untuk pergi sekolah. Bukannya
aku tidak ingin sekolah atau apa, ayolah, siapa yang suka sekolah didunia ini
kecuali Leonardo da vicci dan Alexander Graham Bell? Orang bodoh mana yang dengan
senang hati ingin datang dan duduk manis dibangku sekolahan? Tetapi setelah
kedatangannya, sekolah menjadi tempat yang menyenangkan dan aku menjadi salah
satu dari orang-orang bodoh tersebut.
Well,
semejak kedatangannya kesekolah ini ia terus saja menarik perhatianku. Dia anak
lelaki yang ramah sementara aku tidak. Dan gadis pendiam ini mempunyai
kebiasaan baru mengikuti si anak ramah kemanapun ia pergi. Semacam penguntit,
tetapi untungnya aku tidak pernah ketahuan sejauh ini. Namanya Kim Jinwoo, anak
pindahan satu bulan yang lalu dari salah satu Sekolah yang tidak bisa kuingat
namanya. Jujur saja, semenjak ada dia, aku rasa aku jadi lebih sering menarik
sudut-sudut bibirku. Tersenyum
maksudnya. Dan yang lebih membuatku girang setengah mati adalah, rumahku dan
rumah Jinwoo searah. Dan kautahu artinya? Jadi kegiatan mengikuti dan
memperhatikannya tidak hanya sebatas disekolah saja. Kami naik bis yang sama
dan berjalan bersisian bersama. Sudah kujelaskan apa itu bersisian, ingat? Rumahku
berbeda satu blok dengannya, dan aku harus terpaksa berhenti dirumahku
sedangkan dia harus berjalan satu blok lagi kerumahnya. Dan sejak satu bulan
terakhir, aku harus menahan diriku untuk tidak menyeret rumahku agar bersebelahan dengan rumahnya. Kupikir akan
lebih bagus jika kami bertentangga. Tetapi aku tahu itu sangat-sangat tidak
mungkin kecuali aku memiliki ribuan balon-balon bewarna-warni yang bisa
mengangkat rumahku terbang seperti yang pernah kutonton di film UP. Pikiran
gila.
Besoknya
seperti biasa aku menunggunya didepan gerbang. Kami pulang cepat hari ini entah
karena apa. Tapi ia tidak kunjung datang dan aku bergegas mencarinya keseluruh
sudut sekolah. Akhirnya ia kutemukan sedang berlari mengililingi lapangan olahraga.
Aku memutuskan menunggunya, memperhatikannya dan tak lama setelah itu merasa kebosanan.
Mengeluarkan secarik kertas dari buku dan membentuknya segera menjadi sebuah
burung kertas, hobi yang telah kulakukan sejak lama sekali.
Aku
berpikir untuk memberikan karyaku-burung kertas itu-hari ini kepada Jinwoo.
Tentu saja tidak secara langsung, jadi aku menaruh benda itu didekat air
minumnya dan berlalu pergi. Berharap ia akan mengambilnya bahkan menyimpannya
untuk selamanya.
-
Besoknya ketika pulang sekolah
seperti biasa aku menunggu bis di halte bersama Jinwoo dan seorang gadis
berseragam biru yang sedang berbicara dengannya. Aku kesal, bertanya-tanya
siapa gerangan gadis berseragam biru ini. Kami
tidak satu sakolah, mengingat seragam yang aku dan Jinwoo kenakan berwarna
putih, tidak sama dengannya. Sampai bis datang aku masih bisa melihat ia
bersama gadis itu. Aku masuk duluan setelah itu mereka. Aku baru saja akan
duduk ketika bis melaju tiba-tiba dan--
-merasakan seseorang
mendorongku. Sesorang itu Jinwoo. Dan dia memegang lenganku. Menahanku agar
tidak terjerembab. Diam-diam aku tersenyum, Jinwoo menyentuhku.
“Maaf.” Ucapnya singkat ketika
aku menoleh. Tidak dapat dipercaya dia akhirnya berbicara padaku.
“Tidak apa-apa” ucapku santai.
Apa? Aku bisa mengatakan sesuatu
padanya? Aku tidak pernah menyangka aku bisa melakukannya.
Jinwoo tersenyum manis padaku
dan duduk disalah satu kursi bis. Ia menepuk-nepuk kursi disampingnya memberi
isyarat agar aku duduk disana. Aku terperangah tentu saja untuk beberapa saat.
Kemudian mencari sosok gadis berseragam biru tadi yang menghilang entah kemana.
Well, aku tidak peduli dimana gadis itu sekarang dan segera duduk di samping Jinwoo.
Jinwoo mengeluarkan sesuatu
dari sakunya celananya. Burung Kertas itu. Burung kertas yang kuberikan padanya
kemarin.
“Ini punyamu?” tanyanya masih
dengan senyum yang sama. Aku mengangguk singkat.
Jinwoo menarik tangan kiriku
dan membuka telapak tanganku. Menaruh burung kertas itu disana. Masih dengan
senyum yang sama. “Kukembalikan” ujarnya.
“Kenapa?” Tanyaku bingung
“Bukankah aku sudah tahu siapa
pemiliknya? Kau memberikan burung kertas
itu agar dia menunjukkan siapa pemiliknya kan? Dan dia sudah memberitahuku.”
Aku tersenyum lembut. Karena dia
manis sekali.
Kami sama-sama terdiam untuk
beberapa saat. Jinwoo memilih memerhatikan pemandangan diluar jendela bis
sementara aku tetap memperhatikannya tentu saja. Kalau boleh jujur, aku tidak
pernah memperhatikannya sedekat ini.
Tiba-tiba ia berdiri dan
mengulurkan tangannya padaku “Kita sudah sampai,” ucapnya, memang benar bis
sudah berhenti. Aku lantas menatap tangan itu. Ragu tapi akhirnya kusambut
uluran tangannya. Hangat. Dia tidak melepaskan genggamannya padaku sepanjang
jalan menuju rumah. Agak aneh. Karena kami selama ini selalu berjalan
berjauhan.
“Jinwoo, apa kau kedinginan?”
tanyaku ketika kami berdua telah sampai didepan rumahku. Dia mengangguk,
“Sedikit” katanya
“Mau minum segelas coke-”
“Tidak usah” potongnya cepat
sembari tersenyum. Lagi.
“Baiklah” jawabku singkat.
Sebenarnya ingin sekali menahannya berlama-lama disini. Mengobrol dengannya
lebih banyak lagi dan sebagainya. Tapi Jinwoo ingin pulang, aku bisa apa.
Dia mengacak puncak kepalaku
pelan membuatku menahan nafas
“Aku pulang ya. Terimakasih untuk burung
kertas itu. Ku harap setelah ini kita bisa lebih dekat. Sampai jumpa besok.”
Ujarnya padaku. Tapi ia belum pergi, menungguku untuk masuk rumah terlebih dahulu
dan melambaikan tangannya--
-Seseorang menepuk bahuku
pelan, “Apa yang kau lakukan disini? Kenapa belum masuk?” Aku menoleh ke asal
suara yang sangat familiar ditelingaku.
“Ibu” ucapku singkat
mengerjapkan mataku beberapa kali
“Cepat masuk atau kau akan mati
beku sayang.” Kata ibu sementara aku mencari sosok Jinwoo lagi. Dia masih
disini tadi, berbicara padaku sebelum ibu datang. Tersenyum padaku dan mengacak
puncak kepalaku pelan.
“Ibu lihat Jinwoo?” tanyaku
pada ibu yang terlihat kebingungan
“Jinwoo siapa? Tidak ada orang
lain disini selain kita berdua.” Ibu masih terlihat bingung
“Ibu, Jinwoo itu temanku. Dia
ada disini tadi.” Jelasku pada ibu. Apa Jinwoo sudah pergi sebelum ibu
melihatnya? Tidak mungkin. pikirku
“Kau terlalu lelah hari ini
sayang. Ibu akan menyiapkan air hangat dan membuatkan bubur untukmu ya.” Kata
ibu lagi setelah itu tersenyum manis. Senyuman ibu mengatakan bahwa ia tidak
berbohong. Mungkin kata-kata yang diucapkannya boleh jadi tidak benar, tetapi
senyuman ibu tidak pernah berbohong. Aku tahu itu
Aku hanya mengangguk-anggukkan
kepalaku lemah tanda mengerti dan ibu masuk kedalam rumah setelahnya. Bagus,
aku berkhayal lagi. Dan aku membuat diriku berkhayal sejak berada didalam bis
tadi hingga kejadian didepan rumah.
Jinwoo
sama sekali tidak berdiri disampingku dan tertawa bersamaku. Ia tidak tersenyum padaku. Anak lelaki itu tidak
pernah memandangku dan menggenggam jemariku. Ia tidak berbicara padaku dibis
dan tidak menerima burung kertasku. Ia sama sekali tidak melakukan apapun
bersamaku. Tunggu. Burung kertas? Kubuka genggaman tangan kiriku dan dia ada
disana. Burung kertas yang telah terbagi dua itu ada disana. Sesaat aku
berpikir mungkin aku menemukan burung ini di lantai bis dalam keadaan rusak.
Tetapi mungkin dengan gadis
itu. Jinwoo mungkin melakukan semuanya dengan gadis berseragam biru itu. Ia
berdiri disampingnya dan tertawa bersamanya. Tersenyum, berbicara, dan
menggenggam tangannya. Bukan denganku. Tetapi mengapa aku membayangkan bahwa
yang bersama dengannya itu aku dan terasa sangat nyata? Entahlah
Aku lantas tertawa miris
alih-alih menangis, mengetahui bahwa Jinwoo tidak akan pernah benar-benar melihat
kearahku. Tetapi akhirnya aku tahu, bahwa Jinwoo telah memiliki seseorang yang
sudah mengisi hatinya terlebih dahulu. Aku merasa bodoh sendiri, bagaimana bisa
aku tidak memikirkan hal ini dahulu sebelum jatuh lebih dalam lagi. Tidak ada
yang salah, Jinwoo tidak salah karena aku tidak pernah menanyakan tentang
apakah ia sedang dekat dengan seseorang atau tidak. Biar bagaimanapun, Jinwoo
itu tampan, pintar dan ramah. Sangat mustahil sekali jika ia tidak memiliki
seorang kekasih jika dipikir-pikir lagi.
Ah, mengapa aku sangat bodoh sampai-sampai tidak memikirkan itu semua. Tapi apa
boleh buat itu semua telah terjadi. Aku telah patah hati pada cinta pertama. Ya,
cinta pertama pada seorang Kim Jinwoo. Kurasa tidak terlalu buruk.
-End-
Hai-hai. Kalau boleh jujur ya,
sebenernya fanfiction ini terinspirasi dari
mv Akdong Mucisian-200%, udah nonton? Walaupun ga sama persis, aku
berusaha buat bikin ceritanya senyambung mungkin. Jadi ada beberapa adegan
didalam mv yang aku ilangin dan aku tambahin. Tetapi disamping itu semua, aku
berharap para readers suka cerita ini. Sekali lagi jan jadi silent readers ya..
Aku masih haus akan masukan /ceileh/ Udah gitu aja. Thankyou~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar